UGM-ICCTF Kembangkan Budidaya Padi Kombinasi Metode SRI-Teknologi

oleh -775 Kali Dibaca
DTPB FTP-UGM dan ICCTF mengembangkan budidaya padi metode SRI dengan kombinasi teknologi, di Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. [Foto UGM | Rienews]

RIENEWS.COM – Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (DTPB FTP-UGM) dan  Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) menerapkan pengembangan budidaya padi dengan metode SRI (System of Rice Intensification) di Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Inovasi teknologi berupa telemetri tanah, udara, dan air dilengkapi aplikasi berbasis web dan android bertujuan untuk meningkatkan hasil panen, menghemat kebutuhan bibit, menghemat kebutuhan pupuk, dan mengurangi kebutuhan air hingga 25 pesren. Tak hanya itu, aplikasi teknologi tersebut mampu menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) di Luku Kalara, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur.

Perwakilan DTPB FTP-UGM, Bayu Dwi Apri Nugroho menyatakan, pengembangan demplot SRI kolaborasi antara ICCTF-FTP UGM dilaksanakan mulai musim tanam pertama Tahun 2018 dan berlangsung sampai sekarang. Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan produktivitas padi dengan metode SRI.

Metode ini mereplikasi kegiatan serupa di Kabupaten Kupang, rata-rata metode konvensional menghasilkan 5 hingga 6 ton/hektar, di Baumata dengan metode SRI dapat meningkatkan produktivitas padi 3 ton/hektar.

“Peningkatan signifikan terjadi di Desa Tarus yang semula rata-rata hasil panen padi 5,6 ton/ha, menjadi 12 ton/ha dengan metode SRI seluas 28 hektar,” kata Bayu pers rilis, Kamis 25 April 2019.

Budidaya padi dengan metode SRI ini memiliki kelebihan yaitu hemat air, hemat bibit, hemat biaya, hemat waktu, dan organik sehingga rendah emisi dan ramah lingkungan.

Baca Berita:

Bupati Karo Hadiri Peringatan HKB Dipimpin Dandim Karo

Pemkab Karo Lestarikan Bangunan Tradisional Sapo Angin

Upaya budidaya padi SRI ini merupakan bagian dari strategi adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim mengingat efek buruk dari perubahan iklim sudah dirasakan oleh masyarakat umum di berbagai daerah di Indonesia. Terlebih bagi Provinsi Nusa Tenggara Timur, sebagai daerah beriklim kering yang dipengaruhi angin musim, sektor pertanian seperti padi sering sekali mengalami kesulitan dalam mendapatkan hasil panen yang stabil.

Metode SRI ini, kata Bayu, menjawab tantangan masyarakat petani terutama di daerah kering dan rentan, sebagai strategi adaptasi perubahan iklim yang paling tepat guna. Kegiatan adaptasi dalam program ini, bertujuan untuk mengembangkan strategi ketangguhan iklim dan mencegah kerentanan petani serta lahan pertaniannya akibat kekeringan melalui budidaya SRI dan informasi pertanian berbasis teknologi aplikasi.

Bayu menuturkan, dipilihnya Desa Luku Kalara, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, sebagai daerah implementasi metode SRI. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada karakteristik desa yang berpenduduk 1.041 jiwa dan 42,8 persen dari warganya bermata pencaharian sebagai petani.

Namun, sebut Bayu, ada beberapa kekurangan yang terjadi, di antaranya adalah infrastruktur irigasi yang sudah bagus tetapi belum diimbangi dengan SDM yang baik dalam pengelolaannya. Masih sering terjadi  gagal panen diakibatkan belum tepatnya metode tanam yang digunakan dan serangan hama yang terjadi akibat sistem tanam yang tidak serentak.

Gilbert Harangmbani, anggota kelompok petani Desa Luku Kalara menyampaikan rasa syukur karena telah melihat dampak positif dari program SRI ini. Kelompok tani ini terbantu dengan adanya program dan merasakan nilai lebih  program.

“Awalnya petani masih ragu, karena pola tanam 1 anakan ini kami anggap sangat berisiko. Namun, saat ini kami sudah merasakan dampak baiknya,” ujar Gilbert.

Direktur Operasional ICCTF, Andi Abikusno mengatakan metode SRI adalah sebuah inovasi untuk meningkatkan ketahanan pangan masyarakat sekaligus sebagai upaya adaptasi untuk mengantisipasi perubahan iklim. Sektor adaptasi dan ketangguhan merupakah salah satu fokus area pendanaan ICCTF.

Metode SRI yang digunakan untuk pertumbuhan tanaman dengan menggunakan bibit berumur muda, jarak tanam lebar, pupuk organik, irigasi terputus-putus, dan beberapa penyiangan, terbukti menghasilkan produktivitas padi lebih tinggi dibandingkan dengan pengelolaan sistem konvensional.

“Untuk memantau dan merekam data cuaca di wilayah pertanian di Desa Luku Kalara, ICCTF bekerjasama dengan FTP UGM juga telah mengembangkan teknologi telemetri untuk menganalisis iklim mikro seperti hujan, suhu, dan kelembapan tanah yang dapat diakses oleh kelompok tani di lokasi program,” ujar Andi. (Rep-04 | Rel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *