Juan, Si Anak Petani Jadi Danyon

oleh -19.179 Kali Dibaca
Mayor Inf. Anjuanda Pardosi bersama ibunda Yohana br Pasaribu, dan istri. [Foto Ist | Rienews]

RIENEWS.COM – Berangkat dari ekonomi keluarga yang terbilang sederhana, Anjuanda Pardosi tak lantas menyerah untuk meraih cita-citanya. Pria kelahiran 42 tahun lalu itu, bercita-cita ingin meraih pendidikan hingga perguruan tinggi.

Jangan putus asa, itulah tekad yang dipegang teguh dengan penuh keyakinan oleh Anjuanda.

Berbekal prinsip diri dan didikan orang tuanya, pria yang akrab disapa Juan, kini dipercaya sebagai Komandan Batalyon Infanteri 125/Simbisa.

Perjalanan hidup Juan semenjak kecil sudah berada dalam candradimuka hingga membentuknya menjadi sosok anak laki-laki mandiri dan luwes.

Lahir sebagai anak bungsu dari tujuh bersaudara dalam keluarga petani di Kabupaten Toba Samosir (Tobasa), Sumatera Utara, Juan kecil sudah dididik mandiri.

Selepas menamatkan pendidikan di bangku SD Santo Pius Parsoburan, Tobasa. Putra dari pasangan Amintas Pardosi dan Yohana br Pasaribu, itu memilih meninggalkan kampung kelahirannya demi melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP.

Dia pergi meninggalkan Tobasa menyeberang ke Kabupaten Karo. Di Bumi Turang ini, Juan melanjutkan pendidikan di SMP Xaverius, Jalan Katepul, Kecamatan Kabanjahe. Semula ia tinggal bersama saudaranya di lingkungan Batalyon Infanteri 125/Simbisa.

Baca Berita:

Tak Menerima Bantuan Bencana, Nenek Sanusi Tempuh Jalur Hukum

Polisi Usut Motif Penembakan Pemilik Ternak di Juhar

Di kelas dua SMP, Juan memilih indekos bersama dua temannya. Menyadari ekonomi keluarganya, Juan remaja memutuskan untuk mencari nafkah selepas jam pelajaran. Di tahun 1991, Juan menjadi tukang semir sepatu.

“Menjadi tukang semir sepatu sekitar satu tahun, demi melanjutkan mimpi saya,” kata Juan, mengenang.

Juan dengan sadar melakukan pekerjaan itu untuk bisa membiayai dirinya sendiri dan pendidikan yang ia cita-citakan. Kesadaran ini bertumbuh dengan nasihat dari ayahnya; sabar, tidak sombong, suka menolong.

Setelah mendapatkan surat tanda tamat belajar SMP, Juan kian mantap melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA. Dia diterima masuk di SMA Negeri 1 Kabanjahe.

Di bangku SMA, Juan terus melakoni hidup remajanya berbeda dari teman-teman seusianya dan teman sekolahnya masa itu.

Pagi hingga siang Juan menimba ilmu di sekolah. Usai belajar, ia menjadi tukang semir dan melakukan sejumlah pekerjaan serabutan lainnya. Itu semua dilakukan Juan demi mencapai keinginannya, meraih pendidikan hingga perguruan tinggi.

Pengemblengan diri yang diterapkan Juan dalam hidupnya, tidak sia-sia. Setelah tiga tahun menimba ilmu di SMA Negeri 1 Kabanjahe, Juan diterima sebagai mahasiswa Politeknik Teknologi Kimia Industri (PTKI) di Jalan Menteng (Medan Tenggara), Medan Denai, Kota Medan.

Tinggalkan Kampus

Perjalanan pendidikan yang dicita-citakannya sejak kecil ternyata tidak berjalan mulus. Juan akhirnya memutuskan keluar, meninggalkan bangku kuliahnya di PTKI pada semester genap (VI), sekitar tahun 1998.

Keputusan ini diambil Juan dilatari krisis moneter yang dialami Indonesia pada masa itu. Keluar dari kampus tidak serta merta Juan mengubur cita-citanya meraih pendidikan. Ia melirik pendidikan di Akademi Militer (Akmil).

“Lantaran krismon (krisis moneter), saya memilih jalur pendidikan Akmil. Tidak dikenakan sepersenpun biaya masuk Akmil,” ujar Juan.

Pendidikan Akmil dilalui Juan hingga dinyatakan lulus pada tahun 2002. Selama menjalani masa karier di militer, Juan tetap mewujudkan cita-citanya mengecap pendidikan di perguruan tinggi.

Selama bertugas di Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad), Juan  melanjutkan pendidikan Strata-1  (S1) fakultas ekonomi hingga meraih gelar M.Si., (Strata-2)  di Bandung, Jawa Barat.

Di tahun 2007, Juan menikahi putri berdarah Batak, Asti br Pasaribu. Kini pasangan suami istri itu dikarunia dua anak, Clara br Pardosi dan Aminter Pardosi.

Terhitung sejak 14 Maret 2019, Mayor Infanteri Anjuanda Pardosi resmi menjabat Komandan Batalyon Infanteri 125/Simbisa.

Tongkat komando Yonif 125/Simbisa diserahkan Komandan Brigade Infanteri (Danbrigif) Kolonel Inf. Freddino Janen Silalahi kepada Juan, dalam upacara serah terima jabatan Danyonif 125/Simbisa dari Letnan Kolonel Inf. Victor Andhyka Tjokro kepada Mayor Inf. Anjuanda Pardosi, yang dihadiri Bupati Karo dan sejumlah pejabat daerah.

Juan menuturkan apa yang kini ia terima dan miliki merupakan buah hikmah dari keteguhan, kesabaran, dan menjalankan nasihat orang tuanya. Prinsip hidup yang diteguhinya itu ditanamkan kepada kedua anaknya. (Rep-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *