RIENEWS.COM – Selama bulan suci Ramadan, umat muslim yang berpuasa tidak hanya mengalami perubahan pola makan, melainkan juga perubahan pola aktivitas. Kondisi tersebut memerlukan keseimbangan kebutuhan jasmani dan rohani. Lantas kapan waktu yang tepat untuk berolahraga dengan menyesuaikan perubahan-perubahan tersebut?
Dalam berolah raga perlu mengatur antara komponen frekuensi (banyaknya olahraga per minggu), intensitas (ringan, sedang, berat), durasi saat olahraga, dan jenis olahraga. Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair ) dokter Lilik Herawati menganjurkan saat berpuasa melakukan olahraga intensitas ringan sampai sedang. Untuk jenisnya disesuaikan dengan kondisi masing-masing, seperti jogging, berjalan, bersepeda, maupun senam.
Bagi remaja atau dewasa yang tidak memiliki gangguan dalam persendian, tidak ada penyakit tertentu, dan berat badan normal, dianjurkan melakukan jogging. Namun bagi lansia maupun seseorang yang overweight atau obesitas, sebaiknya cukup berjalan kaki dan bersepeda. Sebab, berlari dapat membahayakan sendi-sendi lututnya.
“Berenang sebenarnya juga boleh, tetapi saat puasa dikhawatirkan ada air yang tertelan,” kata Lilik.
Ada beberapa cara membedakan intensitas olahraga. Cara yang paling mudah dengan melakukan tes bicara. Jika seseorang yang sedang olahraga sembari bernyanyi dan berkomunikasi dengan lawan bicara, maka termasuk kategori olahraga intensitas ringan. Sedangkan, jika bicara masih bisa tetapi sulit untuk bernyanyi, maka termasuk olahraga kategori intensitas sedang. Jika kesusahan bicara, apalagi menyanyi saat olahraga, maka termasuk intensitas berat.
Penyiasatan olahraga pun menjadi perlu, terlebih intensitas dan waktu. Lilik menyarankan waktu yang ideal berolahraga adalah menjelang berbuka puasa. Lantaran, kehilangan cairan tubuh dan merasa haus ketika berolahraga dapat segera kembali pulih saat berbuka.
“Kalaupun dilakukan pagi hari setelah sahur juga boleh, asalkan tidak terlalu berat,” ucap Lilik.
Artikel lain
Tarif Listrik Non Subsidi Periode April-Juni 2023 Tidak Naik
Menanti Akhir Dugaan TPPU Rp349 Triliun
Bahaya Tidur Setelah Sahur dari Sembelit hingga Stroke
Olah raga pagi usai sahur dianjurkan cukup peregangan saja sekitar 30-60 menit atau kurang dari waktu tersebut. Terpenting menyesuaikan dengan kondisi tubuh dan kebiasaan. Begitu pula, apabila kondisi pulang kerja dan sedang capek sekali saat malam hari. Sebaiknya tidak perlu dipaksakan olahraga. Sebab dapat memicu efek yang tidak diinginkan dan meningkatkan risiko cedera.
“Kalaupun bisanya selepas tarawih, ya gunakan jenis olahraga ringan sampai sedang. Olahraga berat tidak perlu dulu karena irama hormonal kortisol lebih rendah saat malam,” jelas Dosen Fisiologi dan Ilmu Kesehatan Olahraga ini.
Lilik juga menyebutkan tips berolahraga aman selama berpuasa untuk orang yang memiliki riwayat penyakit tertentu. Pertama, konsultasi kepada dokter lebih dulu. Kedua, apabila diizinkan berolahraga, ikuti saran dokter tersebut. Prinsipnya, tubuh jangan dibiarkan lama tidak bergerak (kecuali memang ada indikasi tidak boleh bergerak).
Selain itu, upayakan aktivitas fisik sehari-hari diatur menjadi olahraga. Misalnya ketika berjalan, jalannya dibuat jalan ala olahraga, ataupun ketika naik ke lantai dua lebih baik menggunakan tangga daripada eskalator atau lift.
Artikel lain
Masjid Islamic Center UAD Sediakan Tempat Penitipan Anak Selama Ramadan
Menyikapi Putusan FIFA Piala Dunia U20, Erick: Kita Harus Tegar
Muhammadiyah dan Densus 88 Bahas Terorisme, Haedar: Penindakan Harus Berdasar Hukum
“Jadi dengan aktivitas olahraga yang tepat dapat memberikan manfaat. Layaknya obat, apabila dosisnya pas akan memberikan manfaat. Jika kurang ya tidak bermanfaat, apalagi kalau berlebihan bisa membahayakan,” papar Lilik. (Rep-04)
Sumber: Universitas Airlangga






