BNPB Gelar Rakor Tim Intelijen Penanggulangan Bencana

oleh -52 Kali Dibaca
BNPB menggelar rapat koordinasi tim intelijen penanggulangan bencana, dimulai Kamis 29 April hingga Jumat 30 April 2021. [Foto BNPB | Rienews]

RIENEWS.COM –  Bencana yang terjadi di bulan April 2021, di Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Kabupaten Malang, Jawa Timur, memakan korban jiwa dan kerusakan bangunan.

Menyikapi bencana yang terjadi, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama kementerian/lembaga dan unsur pentaheliks, seperti ahli bencana dari perguruan tinggi dan praktisi kebencanaan menyelenggarakan Rapat Koordinasi (Rakor) Tim Intelijen Penanggulangan Bencana. Rakor yang digelar dua hari, sejak Kamis 29 April hingga Jumat 30 April 2021, secara daring dan tatap muka, itu dimaksudkan memaparkan data dan informasi, kajian saintifik serta upaya penanggulangan bencana di wilayah terdampak.

Di hari pertama Rakor, tim intelijen membahas siklon tropis Seroja yang memicu bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada awal April lalu. Dengan menghadirkan narasumber dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Badan Informasi Geospasial (BIG), dan Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan. Juga ahli bencana dari perguruan tinggi Universitas Gajah Mada (UGM) dan IPB University, secara daring. Media yang memegang peranan penting juga dilibatkan sebagai wadah penyebarluasan informasi pembelajaran mitigasi dan edukasi bencana kepada publik.

Baca: Banjir Bandang NTT, Data Terbaru BNPB: 174 Orang Meniggal Dunia, 48 Orang Hilang

Plt. Deputi Bidang Sistem dan Strategi, Dr. Raditya Jati dalam sambutan sekaligus membuka rakor tim intelijen hari pertama, menyatakan, sesuai dengan arahan Presiden dalam Rakornas 2021 lalu, dalam menghadapi bencana harus melakukan mitigasi berupa pencegahan dan lebih banyak melakukan simulasi kepada masyarakat. Untuk itu diharapkan dalam rakor tim intelijen ini hasilnya dapat diimplementasikan secara nyata kepada masyarakat.

“Harapan kami dalam rapat koordinasi tim intilejen penanggulangan bencana kali ini kita bisa memperkuat dan membangun wilayah yang rentan terhadap bencana, sekaligus meminimalisir korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang menjadi aset dibeberapa wilayah,” kata Raditya, dalam siaran pers yang diterima redaksi, Kamis malam.

Bencana di NTT, 182 Orang Meninggal Dunia 

Pada 3 dan 4 April 2021 lalu, terjadi fenomena alam yang menyebabkan bencana hidrometeorologi berdampak di 21 dari 22 kabupaten kota, NTT.

Sintus Carolus selaku Plh. Sekretaris BPBD Provinsi NTT, memaparkan, siklon tropis Seroja menyebabkan 182 jiwa meninggal dunia, 47 jiwa hilang, 184 luka-luka serta 84.876 jiwa mengungsi. Terdapat pula 63 titik penampungan pengungsi yang tersebar di 10 kabupaten kota.

Baca Juga:

Wabup Karo Theopilus Berharap Zona Integritas WBK dan WBBM di BNN Karo Bawa Perbaikan Nyata

Cory Sebayang dan Theopilus Ginting Sampaikan Visi Misi Memimpin Karo Hingga 2024

Sintus juga memaparkan bahan pangan dan gizi merupakan kategori barang yang paling banyak didistribusikan ke 15 kabupaten kota yang terdampak.

Secara kumulatif, Kota Kupang, Kabupaten Kupang, dan Kabupaten Sabu Raijua merupakan 3 lokasi distribusi berdasarkan jumlah item bantuan yang terbanyak di NTT terutama untuk kategori pangan dan gizi, hunian serta air dan sanitasi.

Sementara itu, sarana vital terus dibangun dan diperbaiki terutama sarana listrik dan komunikasi yang sangat dibutuhkan warga terdampak. Progres pemulihan listrik PLN telah mencapai 97,4 % untuk seluruh NTT. Beberapa wilayah yang belum stabil dikarenakan masalah akses, seperti Sabu Raijua, Lembata, Kupang arah Tablolong dan Buraen karena kerusakan cukup parah. Sementara progress jaringan backbone Telkom telah selesai 100 %, 738 BTS sudah pulih dan coverage Telkomsel sudah 100% per hari ini (29/4).

Sintus menambahkan, BPBD Provinsi NTT telah membuat kajian risiko terhadap ancaman-ancaman di beberapa daerah dan bagaimana memastikan ancaman-ancaman tersebut diketahui masyarakat melalui sosialisasi edukasi. Salah satu upayanya yakni dengan pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana). Hal ini untuk memastikan ancaman bahaya sedini mungkin dapat diketahui dan jatuhnya korban jiwa dapat ditekan. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *