Bupati Karo Resmikan Jembatan Napak Tilas Pahlawan Kiras Bangun

oleh -1.361 Kali Dibaca
Bupati Karo, Terkelin Brahmana menggunting pita dalam peresmian jembatan Napak Tilas Kiras Bangun Pahlawan Nasional, di Desa Batukarang, Kecamatan Payung, Senin 29 Juli 2019. [Foto Rienews]

RIENEWS.COM – Bupati Karo, Terkelin Brahmana, Senin 29 Juli 2019, meresmikan jembatan Napak Tilas Pahlawan Nasional Kiras Bangun, berjuluk Garamata (bermata merah), di Desa Batukarang, Kecamatan Payung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Persemian jembatan ditandai dengan pengguntingan pita dan penandatanganan prasasti oleh Bupati Karo.

Terkelin mengatakan, pembangunan infrastruktur, jalan dan jembatan mendukung pertumbuhan ekonomi. Hal itu merupakan bagian dari visi dan misi Pemkab Karo.

“Karena pembangunan jalan dan jembatan memiliki daya dorong kuat terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat pedesaan. Dengan demikian, desa harus terus didorong mampu memberi nilai tambah pada komoditas pertanian, agar memiliki daya jual lebih tinggi,” katanya.

Acara peresmian jembatan Napak Tilas itu dihadiri Asisten I Bidang Pemerintahan Setdakab Karo, Suang Karo-karo, Kepala Dinas Perhubungan Gelora Fajar, Plt Kepala Dinas PUPR, Paksa Tarigan, Kepala Dinas PMD, Abel Tarwai Tarigan, Kabid Bina Marga, Hendra Mitcon Purba, Kepala Dinas  Pertanian Metehsa Purba, Kepala Dinas Kesehatan, Irna S Meliala, dan keluarga besar Pahlawan Nasional Kiras Bangun diwakili Sastra Purba, Camat Payung Jepta Tarigan, Sekcam Mariani br Sitepu, Kepala Desa Batukarang, Roin Andreas Bangun serta puluhan warga dan mahasiswa Universitas Negeri Medan (Unimed) yang sedang melaksanakan kuliah kerja nyata, dan pensiunan ASN Pemkab Karo.

Baca Berita: Ini Jembatan Rp2 M Bernilai Historis Perjuangan Bangsa

“Kisah terbangunnya jembatan ini karena memiliki historis sejarah perjuangan bangsa kita. Khusus bagi orang Karo yang dulunya merupakan jalur napak tilas Pahlawan Nasional Kiras Bangun (Garamata). Demikian juga pejuang-pejuang kita seperti Komandan Batalyon I TNI Sektor III, Kapten Pala Bangun yang akhirnya gugur dalam pertempuran di Bertah, 7 Mei 1949, tidak jauh dari jembatan ini,” tutur Bupati Karo.

Sejarah merupakan jejak dari suatu peristiwa. Nilai-nilai sejarah tersebut perlu dijunjung tinggi dan dikenang agar tertanam rasa cinta pada Tanah Air.

“Kisah heroik dan patriotisme Pahlawan Nasional Kiras Bangun maupun pejuang-pejuang kita lainnya hendaknya dapat diwarisi dan diteladani serta diinternalisasikan dalam mengisi pembangunan,” ujarnya.

“Militansi dan nasionalisme Garamata menjadi benteng dalam pertahanan bangsa dari rongrongan dan infiltrasi ideologi bangsa asing pada zamannya. Harus menjadi renungan dan refleksi kita di era-kekinian,” sebut Terkelin.

Kiras Bangun Melawan Belanda

Menyambut peresmian jembatan Napak Tilas Pahlawan Nasional Kiras Bangun,  keluarga besar diwakili Sastra Purba, membeberkan jalan perjuangan Kiras Bangun melawan penjajah Belanda.

“Kiras Bangun lebih dikenal dengan sebutan Gara Mata (bermata merah), menggalang kekuatan lintas agama di Sumatera Utara dan Aceh untuk menentang penjajahan Belanda. Lahir di Desa Batukarang Tahun 1852. Penampilannya sederhana, berwibawa dengan gaya dan tutur bahasa yang simpatik,” ucapnya.

Baca Berita:

Mengenaskan, Algopur Diduga Digorok Kawan Seperantauan

Warga Tongging Dihebohkan Kabar Kemunculan Harimau Sumatra

Pada 1870, Belanda telah menduduki Sumatera Timur yaitu Langkat dan sekitar Binjai, membuka perkebunan tembakau dan karet.

Belanda ingin memperluas usaha perkebunan ke Tanah Karo, dengan alasan tanah di sekitar Binjai telah habis ditanami. Belanda semakin ngotot, terlebih setelah mengetahui kalau tanah untuk perkebunan di daerah pegunungan Tanah Karo sangat cocok untuk pertanian, didukung udaranya yang sejuk sepanjang musim.

Kepopuleran Kiras Bangun sendiri akhirnya diketahui Belanda dari penduduk Langkat. Untuk itu, kata Sastra Purba, timbul keinginan Belanda untuk menjalin persahabatan dengan Garamata agar diperbolehkan masuk ke Tanah Karo, membuka usaha perkebunan.

Persetujuan Garamata atas kedatangan Belanda akan diberi imbalan uang, pangkat dan senjata. Untuk melancarkan niat bulus ini, Belanda mengutus seseorang yang sudah berkali-kali membujuk Kiras Bangun agar Belanda diberi izin masuk ke Tanah Karo.

“Namun keinginan Belanda untuk memasuki Tanah Karo ditolak mentah-mentah oleh Kiras Bangun. Ini membuktikan kesetiaan seorang Kiras Bangun kepada tanah tumpah darahnya yang sudah mengetahui akal licik Belanda berniat menguasai Tanah Karo,” ujarnya.

“Tahun 1902, situasi di Tanah Karo sendiri sudah semakin memanas semenjak Guillaume dan sejumlah pengawalnya bersenjata lengkap menduduki Berastagi dan Kabanjahe. Garamata dan pengikutnya berupaya untuk menghimpun segenap kekuatan,” ujar Sastra.

Kiras Bangun sendiri gugur pada 22 Oktober 1942, dan jenazahnya dimakamkan di tempat kelahirannya, Desa Batukarang, Kecamatan Payung.

Kiras Bangun dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia masa  Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 9 November 2005 dalam peringatan Hari Pahlawan 10 November 2005.

Plt Kepala Dinas PUPR Paksa Tarigan mengungkapkan anggaran pembangunan jembatan Napak Tilas dari APBD Karo Tahun Anggaran 2017, dengan total dana digelontorkan sekitar Rp4 miliar lebih. Dengan rincian, pembukaan dan pembangunan jalan dari arah Desa Batukarang sampai jembatan pertama sepanjang 285 meter, pembangunan jembatan pertama dengan panjang 12 meter, lebar 5 meter.

Kemudian, dari jembatan pertama dibangun lagi jalan sepanjang 286 meter, baru dibangun jembatan kedua dengan panjang 24 meter, lebar 4,5 meter.

Infrastruktur ini menghubungkan Desa Batukarang di Kecamatan Payung dengan Desa Kutasuah, Kecamatan Munte.

Ditegaskan Paksa Tarigam di tahun 2020, melalui anggaran DAK (dana alokasi khusus), akan dilakukan peningkatan jalan.

Kepala Desa Batukarang, Roin Andreas Bangun mengapresiasi dan berterimakasih kepada Bupati Karo Terkelin Brahmana yang sudah menganggarkan pembangunan jalan dan jembatan ini sekaligus meresmikannya.

“Dengan adanya jalan dan jembatan ini akan mempercepat laju perekonomian masyarakat desa sekitar, namun kedepan pembangunan dan peningkatan jalan ini  agar dituntaskan,” kata Roin didampingi tokoh pemuda Frans Maradona Bangun, Sudarmin Bangun, Yakin Bangun dan Robert Tarigan. (Rep-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *