Dua Bulan Pasca Gempa Bumi, 8.658 Warga Sulbar Masih Mengungsi

oleh -119 Kali Dibaca
Dampak gempa bumi M5,9 di Mamuju, Sulawesi Barat, Kamis 14 Januari 2021. [Foto BPBD Majene | Rienews]

RIENEWS.COM – Hari ini, Senin 15 Maret 2021, dua bulan sudah bencana alam gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 6,2 mengguncang Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar). Guncangan lindu pada Jumat pukul 01.28 WIB atau pukul 02.28 waktu setempat, itu merupakan gempa bumi susulan M5,9 yang terjadi pada Kamis 14 Januari 2021, pukul  13.35 WIB.

Gempa bumi ini berdampak pada kerusaknya 16.116 unit bangunan pemukiman warga dari kategori ringan hingga berat, di tiga kabupaten di Provinsi Sulawesi Barat.

Hingga kini penanganan dampak gempa bumi di Provinsi Sulawesi Barat masih berlangsung.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Raditya Jati menjelaskan, Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat telah menetapkan status transisi darurat ke pemulihan untuk wilayah Kabupaten Mamuju dan Majene.

Baca : Percepat Tangani Dampak Gempa Sulbar, BNPB Akan Beri Dana Stimulan Kerusakan Rumah

Status tersebut ditetapkan melalui Keputusan Gubernur Provinsi Sulawesi Barat Nomor 188.4/58/Sulbar/II/2021, yang berlaku selama 60 hari. Periode ini terhitung dari 5 Februari 2021 hingga 5 April 2021.

Raditya juga mengungkapkan, hingga Senin 15 Maret 2021, sebanyak 8.658 warga dari Kabupaten Mamuju dan Majene masih mengungsi di 53 titik pengungsian.

“Data BNPB per 15 Maret 2021, sebanyak 7.885 warga Mamuju mengungsi di 48 titik pos pengungsian. Sedangkan di Kabupaten Majene, sebanyak 773 warga mengungsi di 5 titik. Kabupaten lain, Poliwali Mandar tidak ada lagi pengungsian. Warga Poliwali Mandar yang juga merasakan guncangan gempa sempat melakukan pengungsian pascagempa namun mereka telah kembali ke rumah masing-masing,” kata Raditya, dikutip dari situs resmi BNPB.

Baca Juga:

Dampak Banjir di Lima Puluh Kota, 1.223 Penduduk Sempat Terisolasi

Pasca Libur Nasional, Wabup Karo Cory Sriwaty Sebayang Sidak ASN

Pemerintah pusat dan daerah terus memberikan dukungan kepada para penyintas yang masih berada di pos pengungsian. Pemerintah daerah memprioritaskan penanganan pasca gempa bumi pada beberapa sektor, seperti pemerintahan, ekonomi, kesehatan, pelayanan fasilitas umum dan sosial dan transportasi antar daerah.

Selain itu, pemerintah daerah juga terus berupaya untuk membuka daerah-daerah yang terisolir.

Empat desa di Kabupaten Majene yang sebelumnya terisolir telah berhasil dibuka kembali, sedangkan satu desa lain baru dapat dilalui roda dua. Di Kabupaten Mamuju, dua desa masih terisolir dan satu desa telah dapat diakses.

Sementara itu, proses pembersihan reruntuhan bangunan tetap berlangsung dengan mengerahkan alat berat.

Berikut data kerusakan bangunan di tiga kabupaten terdampak gempa bumi M6,2 yang didata BPBD Provinsi Sulawesi Barat. Kabupaten Mamuju, total  kerusakan sebanyak 11.423 unit, dengan rincian rusak ringan (RR) 5.526 unit , rusak sedang (RS) 3.843 unit dan rusak berat (RB) 2.054 unit.

Kabupaten Majene, total kerusakan sebanyak  4.099 unit, dengan rincian RR 1.177 unit, RS 1.140 unit dan RB  1.782 unit. Dan di Kabupaten Mamasa, total kerusakan sebanyak 594 unit, dengan rincian RR 440 unit, RS 98 unit dan RB 56 unit.

Raditya Jati mengungkapkan, perkembangan terkini di wilayah Provinsi Sulawesi Barat, aktivitas pasar dan pertokoan telah kondusif. Sektor ini didukung oleh listrik dan penerangan, jalur transportasi, SPBU serta jaringan telepon selular yang pulih. Di samping itu, sektor pelayanan kesehatan, perbankan dan perkantoran juga kembali aktif.  (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *