Fenomena “Aron” Buruh Lepas Ladang di Kabupaten Karo

oleh -2.094 Kali Dibaca
Suasana di Jalan Jamin Ginting,Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara,tempat para "Aron" menjajakan jasa tenaga kerja ladang.[Foto Rienews.com]

RIENEWS.COM Dataran tinggi Kabupaten Karo dikenal sebagai daerah produksi pertanian terbesar di Provinsi Sumatera Utara. Sumber ekonomi warga di bumi Tanah Karo Simalem, mayoritas dari bercocok tanam.

Dalam beberapa tahun terakhir, ada fenomena baru di Kabupaten Karo, terutama di wilayah Kecamatan Berastagi dan sekitarnya. Yakni, kehadiran para buruh lepas perladangan yang disebut Aron.

Saban pagi, para aron terdiri dari perempuan, pria, dan remaja menjajakan jasa tenaga mereka kepada pemilik ladang, di tepi jalan. Di sana, mereka menanti pemilik ladang, ditandai dengan mengendarai mobil bak terbuka, untuk mengangkut mereka.

Selain menunggu di tepi jalan, para aron kerap menawarkan jasa langsung kepada pemilik kebun.

KLIK: Bupati Karo Lepas Kontingen Atlet Porwilsu 2018

Para aron ini kebanyakan berasal sejumlah kabupaten di Sumatera Utara, seperti Kepuluan Nias, dan juga ada berasal dari Pulau Jawa.

Ditemui Selasa pagi, 3 April 2018, seorang aron dari Nias, mengaku setiap paginya menunggu pemilik ladang mengangkut dirinya di tepi Jalan Jamin Ginting, Kota Berastagi.

“Setiap pagi kami menanti pemilik ladang yang akan mengangkut kami dengan mengunakan mobil terbuka miliknya,” ujar Zebua saat ditemui di Jalan Jamin Ginting, Kota Berastagi.

Zebua menjelaskan, jenis pekerjaan mereka beragam. Mulai dari membersihkan lahan pertanian, menggembur tanah, hingga memanen.

“Di ladang, sebagai pembersih ladang. Membabat rumput dan mengemburkan tanah. Bila masa panen kami juga dipekrjakan dengan cara memetik hasil,” kata Zebua.

Soal tarif upah, Tiur boru Simanjuntak mengaku mendapatkan upah per hari hingga ratusan ribu, sesuai dengan pekerjaan.

Untuk pekerjaan membersihkan lahan pertanian, ujar Tiur, dirinya mendapatkan upah Rp 85 hingga Rp 100 ribu per hari.

“Semua itu tergantung kesepakatan dengan pemilik ladang,” tegas Tiur.

Upah tertinggi, Tiur menyebutkan, di masa panen. Para aron dapat menghasilkan uang perhari hingga Rp 250 ribu.

“Jika masuk masa panen, bisa mencapai Rp 150 ribu hingga Rp 250 ribu perhari. Dikarenakam jam kerjanya bertambah. Jika hanya membersihkan ladang, kami memulai aktifitas dari jm 9 pagi,  istirahat  makan dari jam 1 siang hingga jam 2 siang, dan pulang jam 5 sore,” ungkap Tiur.

Sementara untuk bekerja di masa panen, jam kerja per hari bisa mencapai 10 jam.

“Dikarenakan kami harus kejar target untuk buah dan sayur-mayur hasil perladangan yang akan dijual secepat mungkin ke pasaran,” kata Tiur.

Tiur mengaku sudah melakoni pekerjaan sebagai aron sejak satu tahun lalu.

“Saya dan suami merantua ke Berastagi sudah satu tahun, dan pekerjaan buruh ladang kami lakoni selama ini. Guna mengahasilkan rupiah untuk menghidupi ketiga anak kami yang masih kecil. Mengingat upah buruh aron diterima setiap harinya, selesai bekerja,” kata Tiur.

Selain menjemput para aron, pemilik ladang juga mengantar pulang mereka. (Bay)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *