Geriten Raja Senina Lingga Dirusak Aksi Vandalisme

oleh -2.903 Kali Dibaca
Geriten Sebayak Lingga Raja Senina di Bukit Ndaholi, Desa Bintang Meriah, Kecamatan Kutabuluh Simole, Kabupaten Karo, menjadi sasaran vandalisme. [Foto Rienews]

RIENEWS.COM – Geriten Sebayak Lingga Raja Senina di Bukit (Uruk Gung)  Ndaholi, Desa Bintang Meriah, Kecamatan Kutabuluh Simole, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, menjadi sasaran aksi vandalisme. Keturunan Raja Senina Lingga, menyayangkan aksi vandalisme di rumah peristirahatan terakhir leluhur mereka.

Bagi masyarakat Karo, Raja Senina Lingga merupakan tokoh tersohor.

“Saya selaku cucu Sebayak Lingga Raja Senina sangat menyayangkan orang yang tidak bertanggung jawab dengan melakukan coret-coret (vandalisme). Dan, meminta untuk orang-orang yang melakukan itu agar sadar,” ujar Adri Istambul Lingga Gayo, generasi ke delapan Raja Senina Lingga kepada Rienews, Rabu 24 Juli 2019.

Pengamatan Rienews di lokasi Geriten Sebayak Lingga Raja Senina, Senin 22 Juli 2019, bangunan geriten dikotori oleh aksi vandalisme oleh orang-orang yang tak bertangung jawab.

Empat pilar geriten dan tugu menjadi sasaran tangan jahil. Tak hanya itu, separuh plafon di geriten juga hilang.

Kecaman aksi vandalisme tidak hanya datang dari keturunan Raja Senina Lingga. Warga lainnya menyesalkan aksi coret di geriten Raja Senina Lingga.

“Tidak menghargai perjuangan Raja Senina. Seharusnya kita menjaga dengan merawatnya, bukan merusak, apa lagi mengotorinya,” ujar Jekin Sembiring Depari denangan nada kesal

Jekin bersama temannya, Zul Lubis, meyakini aksi tercela itu dilakukan anak baru gede (ABG). Mereka menjadikan lokasi geriten tersebut untuk bermalam.

“Terlihat dari bekas bakaran kayu yang kita temui ini. Jelas sekali, di sini mereka sampai bermalam-malam,” ujar Jekin.

Baca Berita:

Petani Jeruk Karo Alami Serangan Hama Lalat

Polres Tanah Karo Gelar Razia Sepekan

Dia pun mengajak warga yang berkunjung ke Bukit Ndaholi menghargai geriten (makam) para raja, dan merawat kebersihannya.

“Kalau bukan kita yang mejaga siapa lagi. Adalah kesadaran mereka yang berkunjung ke sini. Seperti mengumpulkan lagi sampah bawaan mereka. Inikan termasuk wilayah makam raja, masa tidak kita hargai. Perjuangannya terhadap kemerdekaan di Tanah Karo,” ujarnya.

Geriten Raja Senina Lingga berada di dataran tertinggi, Bukit Ndaholi di Kutabuluh. Dari lokasi ini, pengunjung dapat melihat keindahan panorama alam Kabupaten Karo, dan melihat tubuh Gunung Sinabung.

Kisah Raja Senina Lingga  

Raja Senina Lingga meninggal di usia 120 tahun. Kakek Raja Senina adalah Raja Linge,  pendiri Kerajaan Linge di Gayo, Aceh.

Dalam buku Gajah Putih yang ditulis M. Junus Djamil (1959), disebutkan Kerajaan Linge didirikan pada masa Kerajaan Perlak diperintah Sultan Machudum Johan Berdaulat Mahmud Syah pada abad ke 11.

Di laman Wikipedia, dijelaskan, Kerajaan Linge adalah sebuah kerajaan kuno di Aceh. Kerajaan ini terbentuk pada tahun 1025 M (416 H) dengan raja pertamanya adalah Adi Genali. Adi Genali (Kik Betul) mempunyai empat orang anak yaitu: Empuberu, Sibayak Linge, Merah Johan, Merah Linge.

Reje Linge I mewariskan kepada keturunannya sebilah pedang dan sebentuk cincin permata yang berasal dari Sultan Peureulak Makhdum Berdaulat Mahmud Syah (1012-1038 M). Pusaka ini diberikan saat Adi Genali membangun Negeri Linge pertama di Buntul Linge bersama dengan seorang perdana menteri yang bernama Syekh Sirajuddin yang bergelar Cik Serule.

Versi lain yang diperoleh Rienews dari keturunan kedelapan Raja Senina Lingga, Adri Istambul Lingga Gayo, Raja Linge diyakini garis keturunannya menjadi Sultan di Kesultanan Iskandar Muda di Aceh.

Dalam riwayat hidupnya, Raja Linge memiliki empat anak; Datuk Beru (perempuan), Sebayak Lingga, Meurah Johansyah, dan Meurah Lingga. Anak kedua Raja Linge, Sebayak Lingga juga bernama Raja Natang Negeri merupakan ayah dari Raja Senina Lingga.

Di usia enam tahun, Raja Natang Negeri diusir ayahnya, Raja Linge, lantaran tidak dapat dikhitan karena memiliki kekebalan tubuh sejak lahir. Raja Natang Negeri pergi meninggalkan kampungnya di Gayo, Aceh, dan bermukim di Desa Lingga.

Di usia remaja, Raja Natang Negeri menikahi tiga gadis, beru Sebayang, beru Ginting Rumah Page, dan beru Tarigan Nagasaribu. Dari beru Sebayak lahir seorang putra, Sebayak Lingga (Raja Senina Lingga).

Raja Natang Negeri dikenal memiliki kesaktian. Di usia belia, ia dinobatkan memimpin raja-raja di Karo oleh raja dari Aceh yang berkunjung ke Karo. Penobatan tersebut melalui satu perlombaan menunggangi kerbau, Sinangga lutu. Yakni membuat sang hewan tertunduk saat ditunggangi karena merasakan beban yang berat.

Perlombaan itu diikuti para raja dari kerajaan di Karo. Raja Natang Negeril berhasil membuat kerbau tunduk saat ditunggangi dan didaulat menjadi pemimpinan dari kerajaan di Karo; Kerajaan Sarinembah, Kerajaan Suka, Kerajaan Barus Jahe, dan Kerajaan Lingga.

Kesaktian Raja Natang Negeri menurun kepada Raja Senina Lingga. Di masa hidupnya, Raja Senina Lingga menjadi pentolan menyerang dan mengusir kehadiran serdadu Belanda. Dalam adu strategi perang, Raja Senina Lingga tergolong piawai.

Dikisahkan, dalam setiap pertempuran, Raja Senina Lingga selalu mengggenggam tombak Bintang dan menunggangi kuda putih, memimpin bala pasukannya bergerilya melawan Belanda.

Pertempuran demi pertempuran dilakukan Raja Senina Lingga hingga ke Desa Bintang Meriah dan Kutacane, Aceh.

Raja Senina Lingga memiliki sepuluh istri, dan mempunyai lima putra dan lima putri. Ke lima putranya; Sebayak Lingga Serbanaman, Sebayak Lingga Ahad, Sebayak Lingga Raja Kin, Sebayak Lingga Mbisa, dan Sebayak Lingga Umbat.

Kerajaan di Desa Lingga, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, diteruskan oleh putra Raja Senina Lingga secara bergiliran, hingga kini masih berdiri kokoh.

Raja Senina Lingga sebelum mangkat berpesan agar dimakamkan di Uruk Gung Ndaholi, Desa Bintang Meriah. Agar Raja Senina Lingga dapat melihat kuburan ayahnya, Raja Natang Negeri yang dimakamkan di Bukit Mbelin, Desa Lingga. (Rep-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *