Hunian Pengungsi Sinabung Spot Kunjungan Wisatawan, Tapi…

oleh -1.496 Kali Dibaca
Seorang pengunjung di Puncak 2000, Desa Siosar, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara, keluar dari masjid. [Foto Rienews]

RIENEWS.COM – Dataran tinggi Kabupaten Karo dikenal sebagai salah satu destinasi kebanggaan di Provinsi Sumatera Utara. Panorama alam dataran tinggi, hawa segar dan sejuk menjadi satu di antara daya tarik  Kabupaten Karo. Selain itu, di sini tempat berdirinya gunungapi ‘unik’ di dunia, Gunung Sinabung masih berstatus Awas (Level IV).

Gunung Sinabung merupakan gunungapi berkarakter unik, dan satu-satunya di dunia. Sebab gunungapi Sinabung sejak tahun 2013 hingga kini masih terus mengalami erupsi.

Erupsi Gunung Sinabung menyebabkan ribuan jiwa direlokasi ke kawasan lebih aman di luar dari zona bahaya, ke Desa Siosar, Kecamatan Merek.  Lokasi hunian tetap pengungsi Sinabung di Desa Siosar dikenal sebagai kawasan Puncak 2000 kini menjadi lokasi wisata. Para wisatawan tampak menikmati libur sekolah, Natal, dan Tahun Baru 2019 di spot wisata Puncak 2000, Selasa 1 Januari 2019.

Baca Berita: Waspadai, Ini Prediksi Bencana di Tahun 2019

Di sini, wisatawan dapat menyaksi kompleks bangunan rumah yang kini dihuni  korban terdampak erupsi Gunung Sinabung. Area ini ‘dipagari’ pohon pinus, dan oleh warga mengenal kawasan Puncak 2000 sebagai pintu angin.

Di spot destinasi ini wisatawan bisa menyaksikan puncak kawah Gunung Sinabung. Puncak 2000 kini jadi salah satu lokasi favorit wisatawan yang berwisata ke bumi Tanah Karo Simalem.

Namun wisatawan menyesalkan, lantaran fasilitas masjid yang berada di kawasan Puncak 2000 kurang memadai, seperti tidak adanya sumber air.

“Sangat disayangkan, masjid ini tidak terawat dan terkesan jorok.  Air bersih tidak ada sama sekali,” ujar Fira, wisawatan yang berkunjung ke Puncak 2000.

Tingkat Kunjungan Turun

Amatan Rienews, Selasa 1 Januari 2019, tingkat kunjungan wisatawan di kota wisata Berastagi mulai menurun.

“Sepi sudah hari ini, kebanyakan wisatawan sudah pulang sejak pagi hari. mengingat besok sudah aktif masuk kerja, awal pertama tahun 2019,” ucap pedagang, Mikel Ginting.

Menurut dia, kunjungan wisatawan di momen pergantian tahun ini lebih sepi dibanding tahun lalu.

Ginting yang membuka usaha kedai grosir di seputaran jalan protokoler Berastagi, juga merasakan sepi nya pengunjung dibanding tahun lalu.

Berbeda dengan Mikel Ginting, Wisatawan asal Kisaran, Imran Harahap lebih menikmati kota wisata Berastagi di saat pengunjung sepi.

“Syukur juga, wisatawan engak begitu membludak tadi malam di Berastagi. Jadi kami bersama keluarga, bisa menikmati Kota Berastagi tanpa kemacetan. Kita akui kemeriahan penutup tahun 2018 dan pembukaan tahun 2019 tidak semeriah  di tempat wisata,” kata Imran, sejak Minggu 30 Desember 2018, telah berada di Kota Berastagi bersama keluarganya. (Rep-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *