Ini Pesan Buya Syafi’i di Tahun Politik 2019

oleh -1.431 Kali Dibaca
Ahmad Syafi'i Ma'arif (Buya Syafi'i) berbicara Tahun Politik 2019 di UMY, Jumat 1 Maret 2019. [Foto UMY | Rienews]

RIENEWS.COM – Ahmad Syafi’i Ma’arif (Buya Syafi’i) mengingatkan bangsa Indonesia yang kini sedang melangsungkan demokrasi, Pemilu Serentak 2019, agar belajar pada sejarah, terkhusus umat Muslim di Indonesia. Buya Syafi’i meminta masyarakat Indonesia untuk sabar dalam berdemokrasi dengan menjaga persatuan bangsa dan negara.

Hal ini disampaikan Buya Syafi’i dalam acara bedah buku karyanya, Krisis Arab dan Masa Depan Dunia Islam, dan dirangkai Milad Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ke-38 Tahun, Jumat 1 Maret 2019, di  Gedung Pascasarjana UMY.

Sebagai negara demokrasi juga berpenduduk mayoritas muslim, bangsa Indonesia  memang dilanda cobaan yang besar pada setiap tahun politik yang dilalui. Buya Syafi’i turut menyoroti semakin ramainya pemberitaan Pemilu Serentak 2019, di sosial media bernada kebencian hingga harapan.

Buya Syafi’i mengaku, jika kondisi ini membuat umat Islam terpecah karena politik, maka Indonesia tidak belajar dari sejarah besar perang saudara umat Islam yang terjadi pasca Nabi Muhammad SAW wafat, yaitu Perang Unta pada 656 Masehi. Bahkan mungkin tidak mendapat pelajaran pada Pemilu 2014.

Baca Berita: Kepala Bank Mandiri Kabanjahe Laporkan Penyaluran PKH ke Bupati

“Islam dikatakan dalam Al-Qur’an sebagai pemenang. Tapi miris, kenyataanya sekarang semenjak Nabi wafat, banyak perang saudara dikarenakan haus politik, kekuasaan. Politik berkotak-kotak memecah belah Islam. Agama dijadikan sebagai senjata politik, menyeret Tuhan ke dalam kebencian, serta politik kotor Pemilu. Ini sangat memprihatinkan dan sangat disesalkan,’ ujar Buya Syafi’i dalam siaran pers UMY yang diterima Redaksi, Jumat 1 Maret 2019.

Berita UMY: Serial Tokoh Muhammadiyah, UMY Perkenalkan Kiprah KH. Djarnawi Hadikusmo

Buya Syafi’i mengingatkan, Pemilu itu merupakan pesta rakyat setiap 5 tahun sekali. Jangan sampai hal ini membuat negara terpecah selamanya.

Dalam buku Krisis Arab dan Masa Depan Dunia Islam, Buya Syafi’i menulsikan kegelisahannya mengenai agama yang dipakai untuk tujuan politik. Politik kekuasaanlah yang menjadi faktor utama mengapa Arab waktu itu mengalami kehancuran dalam mempraktikan nilai-nilai Islam, dengan membangun peradaban negara di atas mayat saudaranya.

“Jangan sampai Indonesia seperti itu, merupakan kepahitan yang amat dalam jika terjadi,” tegas Buya Syafi’i.

Dia meminta masyarakat jangan terlalu serius menyikapi tahun politik apalagi dikarenakan berbeda pilihan.

“Jangan terlalu serius menyikapi tahun politik ini, apalagi jika hanya karena berbeda pilihan. Toh, setiap 5 tahun sekali kalau tidak cocok ya ganti. Jangan sampai Indonesia hancur. Banyaknya berita hoax hingga ujaran kebencian dalam berpolitik ini mengartikan peradaban sedang merosot. Jangan terlalu serius lah, demokrasi itu melatih kita untuk bersabar,” imbuh Buya Syafi’i. (Rep-02 | Rel)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *