Inovasi Tim PKM UMY Untuk Kurangi Laju Kerusakan Buah

Ilustrasi

RIENEWS.COM – Buah merupakan salah satu komoditas yang lumrah dikonsumsi masyarakat secara rutin sehingga dapat ditemukan secara mudah di berbagai tempat. Namun seringkali buah mengalami kerusakan akibat penyimpanan yang tidak baik. Penyimpanan dalam ruang pendingin, ruang bertekanan, dan modifikasi atmosfer ruangan dapat dilakukan untuk memperpanjang umur buah, biaya yang diperlukan cukup mahal.

Untuk mengatasi masalah tersebut Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mencoba memberikan solusi melalui alternative edible coating.

“Buah yang telah dipetik tetap mengalami metabolisme yaitu transpirasi dan respirasi. Metabolisme tersebut dapat menyebabkan buah kehilangan air sehingga menyebabkan berkurangnya jumlah bagian yang dapat dimakan dan mengakibatkan turunnya mutu buah dan bahkan tidak layak konsumsi,” ujar Hasbi, Selasa 2 Juli 2019.

Hasbi Ketua Tim Fortepis yang beranggotakan Muhammad Sa’yan Hasbiyallah (Agroteknologi 2017), Eka Fitriastuti (Agroteknologi 2016), dan Delvika Siti Nuraeni (Agroteknologi 2017).

“Untuk mengatasi hal tersebut solusi yang selama ini dilakukan adalah dengan mengemas buah menggunakan plastik. Padahal penggunaan plastik memiliki risiko terhadap kesehatan, misalnya, apabila buah yang sudah dikemas tersebut terpapar oleh sinar matahari. Karena buah dapat terkontaminasi polimer plastik yang berdampak tidak baik bagi kesehatan jika dikonsumsi,” jelasnya.

Baca Berita:

Sistem Zonasi Ancam Anak di Merek Tak Bisa Masuk SMA

2 Bulan Petugas Kebersihan TMJB Tidak Terima Gaji

Hasbi menyebutkan bahwa alternatif lain yang lebih sehat adalah melalui penanganan pasca panen dengan mengaplikasikan edible coating.

“Edible Coating merupakan pelapisan buah alami yang bertujuan untuk memperpanjang umur simpan buah dan sebagai pembawa aditif pada buah. Pelapis tersebut diolah dari ampas tebu yang memiliki kandungan lignin sebanyak 24.2 persen. Lignin ini dapat menekan laju respirasi dan transpirasi sehingga buah tidak mudah mengalami kerusakan dan kehilangan air. Selain menggunakan ampas tebu ditambahkan juga air perasan jeruk nipis yang bertujuan agar menghambat pertumbuhan mikrobia pada buah,” paparnya.

“Proses pembuatannya dimulai dari tahap ekstraksi ampas tebu, setelah itu ampas tebu dipanggang dan dihaluskan hingga mendapat butiran halus. Kemudian ampas halus diekstraksi dengan menggunakan alat vacuum rotary evaporator sehingga didapat endapan lignin yang siap digunakan untuk melapisi buah. Pada uji coba penerapannya, kami mengaplikasikan edible coating ini pada buah belimbing,”  aku Hasbi.

Dia menuturkan alasan pemilihan ampas tebu sebagai bahan edible coating juga untuk melakukan pemanfaatan limbah tebu yang masih kurang. Selain itu, jika limbah tebu dibiarkan akan mencemari lingkungan dengan bau yang tidak sedap.

“Semoga dengan ini, masyarakat dapat memanfaatkan ampas tebu menjadi bahan yang bernilai ekonomis sekaligus juga menjaga lingkungan dari pencemaran,” imbuhnya. (Rep-04)