Kualitas Udara Kota Palembang Buruk, Sekolah Diliburkan

oleh -106 Kali Dibaca
Kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau. [Foto BNPB | Rienews]

RIENEWS.COM – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis jumlah titik panas pada Senin pagi, 14 Oktober 2019, berdasarkan citra satelit modis-catalog Lapan dalam 24 jam terakhir, mencapai 1.184 titik panas. Provinsi Sumatera Selatan menjadi wilayah paling banyak titik panas.

Dampak dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Pulau Sumatera dan Kalimantan menyebabkan udara di sejumlah kota buruk dan tidak sehat.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Agus Wibowo menyatakan udara di  Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, pada tingkat bahaya.

“Asap akibat karhutla menyebabkan aktivitas pendidikan diliburkan. Melalui pesan digital, Kepala Dinas Pendidikan Kota Palembang menginstruksikan kegiatan belajar mengajar di tingkat paud, TK, SD dan SMP negeri dan swasta diliburkan hingga batas yang belum ditentukan. Kegiatan belajar diliburkan sejak hari ini (Senin 14 Oktober 2019) karena asap yang mengganggu dan membahayakan masyarakat,” kata Agus dalam siaran pers yang diterima wartawan.

Baca Berita:

Bupati Karo Klaim Ada Peningkatan Penyelesaian RHP BPK

Wisatawan Nilai Pariwisata Kota Berastagi Monoton

Pantauan BNPB, kualitas udara dilihat dari indikator PM (particulate matter) 2,5, Senin pagi, di wilayah Sumatera Selatan mencapai pada tingkat berbahaya atau pada angka 921.

“Kualitas udara tersebut seiring dengan jumlah titik panas atau hotspot di wilayah (Sumatera Selatan) itu hingga mencapai 691 titik, atau tertinggi di antara wilayah lain, seperti Riau, Jambi dan beberapa wilayah Kalimantan,” katanya.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat kualitas udara dengan parameter PM 2,5 di beberapa wilayah menunjukkan tingkat yang memburuk.

Kualitas udara Provinsi Jambi menunjukkan angka 235 sangat tidak sehat, Kalimantan Tengah 102 tidak sehat, Kalimantan Selatan 174 sangat tidak sehat dan Riau 51 atau tidak sehat.

Sedangkan sebaran titik panas di beberapa wilayah sebagai berikut, Sumatera Selatan berjumlah 691 titik, Kalimantan Tengah 230 titik, Jambi 117 titik panas, Kalimantan Selatan 28 titik panasa, Riau 16 titik panas dan Kalimantan Barat 12 titik panas.

Penanganan darurat karhutla di wilayah Sumatera Selatan masih terus berlangsung hingga kini.

“BNPB mengerahkan 7 helikopter untuk melakukan pengeboman air atau water bombing.  Air yang digunakan untuk pengeboman sudah mencapai 66 juta liter air, sedangkan operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC) telah mengelontorkan sekitar 14 ribu garam (NaCl). Operasi udara ini didukung juga personel darat gabungan mencapai lebih 8.000 personel,” katanya.

Dijelaskannya, data BNPB pada Senin 14 Oktober 2019, pukul 09.00 WIB, mencatat jumlah titik panas mencapai 1.184 berdasarkan citra satelit modis-catalog Lapan dalam 24 jam terakhir.

“Dilihat dari sebaran titik panas di wilayah Sumatera, arah angin pada umumnya mengarah dari tenggara ke barat laut. Arah sebaran asap di Sumatera Selatan menyebar ke arah barat laut. Terpantau titik panas berada di wilayah-wilayah, seperti Kabupaten Ogan Komering Ilir, Banyuasin, Musi Banyuasin,” ujar Agus.

Badan Meteorologi, Klimatologi, Geofisika (BMKG) merilis citra sebaran asap pada hari ini (Senin tidak terdeteksi adanya transboundary haze atau asap yang melewati batas negara.

“Data tersebut diambil dari citra satelit Himawari pada hari ini (Senin). Dari citra satelit itu, terpantau persebaran asap di wilayah Sumatera dan Kalimantan,” ungkapnya. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *