Lahan HPL Seluas 150 Hektar Terbakar di Kolaka Timur

oleh -440 Kali Dibaca
Petugas tim gabungan melakukan pemadaman karhutla di Kabupaten Kolaka Timur, Provinsi Sulawesi Tenggara. [Foto BNPB | Rienews]

RIENEWS.COM – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) melanda tiga desa dan dua kecamatan di Kabupaten Kolaka Timur, Provinsi Sulawesi Tenggara. Upaya pemadaman yang dilakukan tim gabungan mengalami kendala di lapangan.

Pelaksana tugas Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulanan Bencana (BNPB) Agus Wibowo menyebutkan upaya pemadaman karhutla dilakukan BPBD Kabupaten Kolaka Timur bersama tim gabungan, mengalami sejumlah kendala di lapangan.

Agus menjelaskan, karhutla terjadi pada hari Sabtu 31 Agustus 2019. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kolaka Timur telah menyatakan status siaga darurat sampai tanggal 11 September 2019, atas kebakaran yang terjadi pada lahan berstatus Hak Pengelolaan Lahan (HPL) tersebut.

“Menurut BPBD Kolaka Timur, kebakaran lahan tersebut merupakan peristiwa yang berulang setiap tahunnya dan terjadi pada musim kemarau. Sementara itu, berdasarkan koordinasi antara BPBD Kolaka Timur dan BPBD Provinsi Sulawesi Tenggara, dukungan pemadaman udara menggunakan helikopter water boombing belum begitu diperlukan, mengingat wilayah yang terbakar merupakan rawa basah dan diperkirakan cepat padam. Oleh sebab itu, masa siaga darurat juga diputuskan berada dalam waktu yang singkat hanya sekitar 11 hari,” ujar Agus dalam siaran persnya, Minggu 1 September 2019.

Baca Berita:

Laga Perdana, Karo United Sukses Raih Tiga Poin dari Bansar Gebang

Soal Biaya Masuk Lido, BNNP Sumut Panggil Keluarga Residen dan BNNK Karo

Adapun upaya pemadaman sudah dilakukan melalui darat menuju titik api oleh tim gabungan terdiri dari  Tim BPBD Kolaka Timur, TNI, Polri, Manggala Agni, Instansi terkait yang di bantu oleh masyarakat.

“Selain itu, tim pemadaman karhutla juga mendapatkan bantuan berupa pompa air dari dua badan usaha yang bergerak di bidang perkebunan sawit yakni PT. Antam Pomalaa dan PT Sari,” sebut Agus.

Dikaakannya, beberapa hal yang masih menjadi hambatan tim di lapangan dalam proses pemadaman adalah terbatasnya jumlah pompa berikut selangnya yang kurang panjang sehingga tidak mampu menjangkau titik api lebih jauh lagi.

“Kendati demikian, BPBD Provinsi Sulawesi Tenggara telah memobilisasi kekurangan alat pompa pada Sabtu malam. Selain kurangnya jumlah unit pompa air dan terbatasnya panjang selang, tim juga memerlukan dukungan dana operasional pada tiap posko,” imbuh Agus.  (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *