Longsor di Cihanjuang Sumedang, 16 Orang Tewas, 23 Orang Hilang

oleh -235 Kali Dibaca
Upaya evakuasi dilakukan tim SAR gabungan di lokasi longsor Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat, pada Sabtu 9 Januari 2021. [Foto BPBD Sumedang | Rienews]

RIENEWS.COM – Korban meninggal dunia dalam bencana hidrometeorologi, tanah longsor yang terjadi di Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, menjadi 16 orang.

Tim SAR gabungan, pada Selasa 12 Januari 2021, kembali menemukan satu jenazah korban longsor di Desa Cihanjuang. Dengan penemuan ini, korban meninggal dunia yang ditemukan mencapai 16 orang.

“Tim SAR gabungan temukan korban berjenis kelamin laki-laki dalam keadaan meninggal dunia, pukul 09.55 WIB,” ujar Kepala Basarnas Bandung Deden Ridwansyah.

Baca :  Bencana Hidrometeorologi Kembali Renggut Korban, 11 Warga Cihanjuang Sumedang Tewas Tertimbun Longsor

“Info terbaru korban dalam pencarian 23 orang karena kemarin ketika didata ulang ada double name,” kata Deden, dikutip dari CNNIndonesia.com.

Deden menyatakan, fokus pencarian terhadap korban longsor dilakukan di area belakang masjid An-Nur dan lapangan voli.

“Di sektor dua dan sektor tiga ini diduga terdapat banyak korban yang tertimbun material longsor,” kata Deden, dikutip dari Kompas.com.

Bencana tanah longsor melanda Desa Cihanjuang pada Sabtu 9 Januari 2021, sekitar pukul 16.00 WIB. Longsor susulan kembali terjadi pada Sabtu malam, sekitar pukul 19.30 WIB.

Baca Berita:

Kabupaten Karo Masuk Program Sekolah Penggerak Kemendikbud

Hari Ini, 3 Gempa Landa Wilayah Indonesia

“Longsoran pertama dipicu curah hujan tinggi  dan kondisi tanah tidak stabil. Longsor susulan terjadi pada saat petugas masih melakukan evakuasi korban di sekitar area longsoran pertama. Data sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumedang per Minggu dinihari (10 Januari 2021), mencatat korban luka 18 jiwa, dan meninggal dunia 11,” tulis Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati dalam siaran persnya, Minggu 10 Januari 2021.

Raditya menjelaskan, warga terdampak bencana longsor mengungsi secara tersebar di rumah penduduk.

“Sedangkan kerugian materiil, BPBD Kabupaten Sumedang menginformasikan rumah rusak berat 14 unit dan tempat ibadah 11 unit. Dampak tersebut disebabkan oleh tanah longsor yang terjadi pada (Sabtu 9 Januari 2021) pukul 16.00 WIB dan disusul longsoran berikutnya pada pukul 19.00 WIB. Longsor pertama dipicu oleh intensitas hujan tinggi dan struktur tanah labil,” kata Raditya dalam siaran pers yang diterima wartawan, Selasa 12 Januari 2021.

Pos Komando Penanganan Darurat Bencana Tanah Longsor menginformasikan proses evakuasi terkendala cuaca hujan di sekitar lokasi bencana. Hujan yang turun sangat berpengaruh pada kondisi tanah sehingga tim gabungan dengan cermat untuk memantau gerakan tanah.

“Proses evakuasi sempat dihentikan sementara karena kondisi hujan. Di samping itu, jalur evakuasi melalui mobil ambulans terkendala dengak akses jalan sempit dan pergerakan orang,” ujar Raditya.

Pemerintah Kabupaten Sumedang telah menetapkan status tanggap darurat bencana banjir dan longsor pada 9-29 Januari 2021. Penetapan status ini dikeluarkan melalui SK Bupati Nomor 21 Tahun 2021 tentang Penetapan Status Tanggap Darurat Bencana Banjir dan Tanah Longsor di Kecamatan Cimanggung dan Kecamatan Jatinagor, Kabupaten Sumedang.

Dalam merespons kondisi darurat, BNPB memberikan bantuan logistik berupa masker dan makanan siap saji. Selain bantuan logistik, BNPB juga menyerahkan  bantuan dana siap pakai (DSP) pada Minggu 10 Januari 2021.

“Kepala BNPB Doni Monardo menyerahkan kepada Bupati Sumedang bantuan DSP sebesar Rp1 miliar,” jelas Raditya. (Red)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *