RIENEWS.COM – Dua mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) membukukan rekor terbaru dalam International Association of Students in Agriculture and Related Sciences (IAAS), merupakan NGO mahasiswa pertanian di seluruh dunia. Di IAAS Indonesia tercatat ada 11 member dari universitas di Indonesia.
Tahun ini, melalui Kongres Nasional yang diselenggarakan di Universitas Brawijaya, Malang Jawa Timur, pada 26 sampai 29 Januari 2019, dua mahasiswa UMY berhasil menjadi satu-satunya universitas swasta yang ikut tergabung dalam member IAAS Indonesia.
Maki Lukmanul Hakim dan Annisa Rahma Fatika, mahasiswa Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian, berhasil menyabet rekor baru bagi universitas swasta di Indonesia. Keduanya berhasil menyisihkan lawan dari sembilan universitas lain yang ikut seleksi. Pada saat pendaftaran IAAS terdapat sembilan universitas yang mengajukan, dan hanya tiga universitas yang berhasil lolos, salah satunya adalah UMY.
“Ini menjadi sejarah karena kami menjadi satu-satunya universitas swasta sekaligus Perguruan Tinggi Muhammadiyah pertama yang bisa masuk ke organisasi internasional seperti IAAS. Adapun yang kami lakukan untuk mengikuti Kongres Nasional IAAS di Indonesia melakukan proses pengajuan berkas terlebih dahulu, dari sembilan universitas yang mengajukan, hanya tiga universitas yang berhasil lolos pengajuan member, yaitu UMY, Universitas Udayana, dan Universitas Negeri Jember,” ujar Maki Lukmanul Hakim, Kamis 14 Februari 2019.
Baca Berita: Pilpres 2019, Bupati Karo Tegaskan ASN Netral
Dia sebutkannya, member IAAS saat ini adalah UMY, Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Padjajaran, Universitas Brawijaya, Universitas Diponegoro, Universitas Gajah Mada, Univesitas Sebelas Maret, Unversitas Lambung Makurat, Universitas Mataram, Universitas Udayana, dan Universitas Negeri Jember.
Baca Juga: UGM Perguruan Tinggi Terbaik di Indonesia versi 4ICU
“Semuanya Universitas Negeri, dan kami kemarin mencoba untuk menjadi member dan alhamdulilah lolos menjadi kadidat member. Untuk satu tahun ini kami masih dalam masa percobaan, apakah layak atau tidak nanti tahun depan baru mendapat keputusan full member atau tidak. Program unggulan dari IAAS yaitu magang nasional dan magang internasional. Magang nasionalnya ada di 10 kota yang tergabung dalam member tersebut, sedangkan magang internasionalnya ada di 40 negara member. Magangnya untuk seluruh mahasiswa pertanian di universitas yang telah menjadi member tersebut. Kita akan dilibatkan di acara-acara internasional yang berkaitan dengan pertanian, seperti program dari FAO (Food and Agriculture Organization) milik IPB, serta mengikuti program-program internasional lainnya yang berhubungan dengan pertanian,” imbuh Maki.
Diakuinya, proses seleksinya cukup panjang.
“Karena kami mempersiapkannya selama satu tahun, mengirimkan berkas untuk pengajuan, seleksi interviu. Kami juga dihadapkan pada delapan member IAAS dan satu nasional komite dan asosiasi. Walaupun kami dari kampus swasta tapi kami menekankan bahwa kami ini layak untuk menjadi member di IAAS tahun ini. Kami punya SDM yang baik, lingkungan kampus yang bagus, juga dengan program-program yang kami tawarkan. Walaupun kami menjadi satu-satunya member dengan predikat kampus swasta di IAAS yang terpenting kami bisa membuktikan bahwa prestasi kami tidak kalah dengan mereka,” tegas Maki.
IAAS di Indonesia didirikan pada tahun 1992 yang memiliki slogan Think Globally Act Locally dengan tujuan agar dapat menjadi platform mahasiswa Indonesia untuk dapat bertukar pikiran, gagasan, dan aksi nyata dengan mahasiswa lain di seluruh dunia.
IAAS Indonesia memiliki komite lokal yang sudah tersebar di universitas-universitas di Indonesia dengan program utama seperti pertukaran pelajar nasional dan internasional. (Rep-04 | Rel)





