Dampak Karhutla, Kualitas Udara Riau Mulai Membaik

oleh -656 Kali Dibaca
Satuan Tugas Darat Operasi Pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan Provinsi Riau melakukan pemadaman api. [Foto BNPB | Rienews]

RIENEWS.COM – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, kualitas udara di Provinsi Riau pada Rabu sore, 13 Marert 2019, mulai membaik. Hal ini berdasarkan indikasi Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) pada kategori baik, 13-41. Sementara itu, luas kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Riau hingga Rabu 13 Maret 2019, mencapai 1.823,91 hektar.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, Kamis 14 Maret 2019, menyatakan, data yang dihimpun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Riau menunjukkan ISPU Rumbai di Kabupaten Pekanbaru 24, Minas di Siak 31, Duri Field dan Duri Camp di Bengkalis 27 dan 29, Dumai 11, Bangko dan Libo di Rokan Hilir 39 dan 31, serta Petapahan di Kampar 41.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) indikator kualitas udara kategori baik pada nilai indeks ISPU 0 – 50.

“Kualitas udara yang membaik ini diupayakan dengan kerja keras oleh Satuan Tugas (Satgas) Operasi Pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan Provinsi Riau. Pemadaman kebakaran hutan dan lahan  menggunakan strategi pemadaman udara dan darat,” ujar Sutopo.

Satgas Udara mengoperasikan 11 helikopter water bombing dan 1 pesawat. Helikopter water bombing melakukan pengeboman air atau, patroli,  dan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) kerja sama antara BNPB, BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) dan TNI AU.

Ke 11 helikopter water bombing dan patroli dioperasikan oleh BNPB, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), TNI, dan Polri serta dukungan dunia usaha.

Baca Berita: Kota Rantauprapat Diselimuti Asap Karhutla Riau

Baca Juga: Kaki Bule Jerman Digilas Pengendara Motor

TMC yang dilakukan oleh tim BPPT dengan menggunakan pesawat Cassa 212 telah menggelontorkan 1.600 kg garam (NaCl) di awan. Sortie tabur garam pertama di wilayah Pelalawan dan Indragiri Hilir sebanyak 800 kg dan sisanya di Bengkalis dan Siak.

“Total NaCl yang telah dijatuhkan di wilayah Riau hingga Rabu (13 Maret 2o19) sebanyak 19.000 kg,” kata Sutopo.

Sementara itu, Satgas Darat telah melakukan pemadaman titik api dan juga pendinginan atau mopping up di bekas area terbakar. Satgas Darat ini melibatkan banyak pihak seperti BPBD di wilayah Riau, TNI, Polri, Manggala Agni, masyarakat peduli api dan personel dari dunia usaha.

Hasil penilaian luas lahan yang terbakar dari 1 Januari 2019 hingga hari 13 Maret 2019, seluas 1.823,91 hektar.

Luas lahan terdampak paling besar di wilayah Kabupaten Bengkalis seluas 1.015,5 hektar.  Luas lahan terbakar di Rokan Hilir 254,5 hektar, Meranti 215,4 hektar, Dumai 133 hektar, Siak 70,75 hektar, Indragiri Hilir 48 hektara, Pelalawan 43 hektar, Pekanbaru 21,76 hektar, Kampar 19,5 hektar, dan Indragiri Hulu 1,5 hektar.

Dikatakan Sutopo, berdasarkan BMKG, informasi cuaca yang terkait dengan tingkat kemudahan terbakar menunjukkan bahwa wilayah Riau pada umumnya berada dalam kategori aman.

Sementara itu, berdasarkan pantauan per pukul 16.00 WIB satelit NOAA meunjukkan jumlah titik panas atau hotspot di wilayah Riau nihil, sedangkan Terra/Aqua pada Kepulauan Riau 4, Bengkalis 1.

“Upaya pencegahan sangat penting dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan. Harus diakui bahwa pemadaman Karhutla menghabiskan banyak anggaran yang mencapai Rp 1 triliyun dalam 1 tahun,” ungkap Sutopo.

Ditegaskannya, pencegahan selalu lebih murah dan efektif daripada pemadaman.

Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo dalam kunjungannya ke Sumatera Selatan, Selasa 12 Maret 2019, mengatakan BNPB akan membentuk tim khusus akan bekerjasama dengan pemerintah dan TNI/Polri serta membentuk sebuah unsur yang terdiri dari komponen masyarakat termasuk para pakar, akademisi, komunitas, budayawan, pemuka agama, hingga media massa.

“Kita harapkan tim ini memberikan penyuluhan kepada masyarakat. Tim gabungan tersebut akan membuatkan  konsep. Program pemberdayaan dan pelibatan masyarakat menjadi prioritas dalam pencegahan Karhutla,” imbuh Doni. (Rep-02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *