SENI  

Pameran Lukisan Dari Indonesia ke Palestina, Refleksi Setahun Tragedi Kemanusiaan

Rektor UII Fathul Wahid memperhatikan salah satu karya lukisan dalam pameran lukisan bertema Dari Indonesia ke Palestina: Refleksi Setahun Tragedi Kemanusiaan, digelar di Gedung Moh. Hatta UII dan akan berlangsung selama satu bulan ke depan. Foto Istimewa.
Rektor UII Fathul Wahid memperhatikan salah satu karya lukisan dalam pameran lukisan bertema Dari Indonesia ke Palestina: Refleksi Setahun Tragedi Kemanusiaan, digelar di Gedung Moh. Hatta UII dan akan berlangsung selama satu bulan ke depan. Foto Istimewa.

RIENEEWS.COM – Universitas Islam Indonesia (UII) bersama Embun Kalimasada Yayasan Badan Wakaf UII bekerja sama dengan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menyelenggarakan seminar dan pameran lukisan bertema Dari Indonesia ke Palestina: Refleksi Setahun Tragedi Kemanusiaan, pada Senin, 7 Oktober 2024.

Kegiatan seminar berlangsung di Gedung Kuliah Umum Sardjito UII, sementara pameran lukisan digelar di Gedung Moh. Hatta UII dan akan berlangsung selama satu bulan ke depan.

Lukisan yang dipamerkan menampilkan karya terpilih dari kegiatan Open Call Lukisan oleh Embun Kalimasada Yayasan Badan Wakaf UII. Sebanyak 65 karya lukisan terkumpul, di mana tiga di antaranya terpilih sebagai karya terbaik dan dua karya lukisan lainnya mendapat apresiasi sebagai juara harapan dari hasil penilaian dewan juri.

Melalui penyelenggaraan seminar dan pameran lukisan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan solidaritas bersama dengan Palestina.

Selain itu, masyarakat juga dapat lebih memahami berbagai tantangan yang dihadapi serta kompleksitas politik internasional dalam perjuangan kemerdekaan Palestina.

Artikel lain

Teater The Jongos Kolaborasi Aktor Sastrawan Aktivis Demokrasi Musisi Jogja

Pameran Lukisan Laila Tifah Bertajuk “Sri”

‘Bahaya’ Gawai di Pameran Lamun Selantur

Sejarah mencatat, sejak 7 Oktober 2023, situasi memburuk dengan genosida massal yang dilakukan oleh Israel di berbagai wilayah Palestina, seperti Gaza dan Rafah, serta melebar ke Lebanon. Ribuan nyawa telah hilang, kebanyakan perempuan dan anak-anak.

Tindakan ini telah melanggar Konvensi Genosida 1948, yang didefinisikan sebagai upaya menghancurkan suatu kelompok nasional, etnis, ras, atau agama. Negara-negara seperti Afrika Selatan sudah mengajukan tuntutan terhadap Israel atas pelanggaran ini.

Meskipun tindakan Israel terus menuai kritik internasional, negara-negara adikuasa cenderung permisif dengan dalih hak membela diri dari serangan Hamas. Padahal, penindasan terhadap Palestina sudah terjadi sejak 1948, jauh sebelum berdirinya Hamas. Israel terus memperluas okupansi, memperkuat persenjataan, dan menarik orang-orang dari berbagai negara untuk menjadi penduduk di wilayah yang diduduki.

Respons internasional terhadap tragedi ini pun hingga saat ini tampak masih  terbelah. Banyak negara mengutuk Israel dan mendukung Palestina dalam resolusi-resolusi di Majelis Umum PBB, tetapi dukungan ini belum cukup kuat untuk menghentikan kejahatan perang Israel. Di sisi lain, Perdana Menteri Israel tetap mencari dukungan militer dan finansial dari pemimpin dunia, memperparah ketimpangan kekuatan antara Palestina dan pendukung Israel.

Artikel lain

Menlu Retno Sampaikan Diplomasi Indonesia untuk Palestina “All Eyes on Rafah”

Hari Kebebasan Pers Sedunia 2024, UNESCO Nobatkan Jurnalis Palestina Raih Penghargaan Guillermo Cano

TelkomGroup Perkuat Digitalisasi Maritim Melalui Pemanfaatan Satelit Merah Putih 2

Kegiatan seminar menghadirkan beberapa pembicara, antara lain Ketua EMT MER-C Indonesia, Arief Rachman, Sp.Rad., Guru Besar Fakultas Hukum UII, Prof. Dr. Sefriani, S.H., M.Hum., serta Kepala Laboratorium Inovasi Global, Hubungan Internasional UII, Rizki Dian Nursita, S.IP., M.H.I. Dalam rangka memberikan gambaran situasi terkini di Palestina, pada penyelenggaraan seminar ini juga diisi dengan laporan langsung oleh tim MER-C yang saat ini bertugas di Gaza. (Red)