AJI Yogyakarta-UAJY Gelar Workshop Jurnalistik Etika dan Kemajuan Teknologi

Ketua Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Mario Antonius Birowo dan Ketua AJI Yogyakarta, Januardi Husin di acara pembukaan workshop bertema "Jurnalisme Hari Ini: Antara Etika dan Kemajuan Teknologi", Jumat, 21 November 2025. Foto Istimewa.
Ketua Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Mario Antonius Birowo dan Ketua AJI Yogyakarta, Januardi Husin di acara pembukaan workshop bertema "Jurnalisme Hari Ini: Antara Etika dan Kemajuan Teknologi", Jumat, 21 November 2025. Foto Istimewa.

RIENEWS.COM – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta dan Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) menggelar workshop “Jurnalisme Hari Ini: Antara Etika dan Kemajuan Teknologi” di Auditorium Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Jumat, 21 November 2025.

Kegiatan ini dihadiri 70 peserta terdiri dari mahasiswa semester satu Ilmu Komunikasi UAJY dan jurnalis, dengan pembicara Ketua Departemen Ilmu Komunikasi UAJY, Mario Antonius Birowo dan Ketua Bidang Pendidikan, Etik dan Profesi AJI Indonesia, Sunudyantoro.

Workshop dimoderatori Bhekti Suryani dari AJI Yogyakarta, ini rangkaian kegiatan Uji Kompetensi Jurnalis (UKJ) yang AJI Yogykarta, sejak 21 hingga Minggu, 23 November 2025. UKJ diikuti 15 jurnalis tingkat Muda, Madya, dan Utama dari Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Acara tersebut bagian dari program JALIN (Jaringan Kemitraan) Departemen Ilmu Komunikasi UAJY bersama AJI Yogyakarta.

Mario Antonius Birowo menjelaskan bahwa permasalahan jurnalistik adalah bagian dari masalah ilmu komunikasi yang harus diselesaikan. Karena keterhubungan jurnalistik dengan disiplin lainnya dalam ilmu komunikasi, penyelesaiannya perlu dilakukan secara kolaboratif, baik lintas disiplin maupun antara praktisi dan akademisi.

Dalam materinya, Anton mengemukakan perkembangan teknologi Artificial intelligence (AI) sebagai perkakas yang dapat membantu kerja-kerja jurnalis.

“Jurnalisme era AI bukan soal siapa yang lebih berkuasa, melainkan bagaimana teknologi bersujud pada etika agar setiap berita yang lahir di zaman cerdas ini tetap membawa satu janji: Manusia tidak pernah ditinggalkan oleh kebenaran,” katanya.

Anton menyorot perkembangan AI yang menjadikan kemampuan membuat prompt (perintah) sangat dibutuhkan agar jurnalis dan pekerja redaksi lainnya dapat menggali informasi penting dan mendalam.

Senada dengan Anton, Sunudyantoro mengatakan bahwa AI telah menjadi bagian yang tidak bisa dihindari dalam era media digital, seiring dengan perkembangan teknologi. Akan tetapi, penggunaannya harus memenuhi unsur-unsur etis, seperti pernyataan kepada khalayak bahwa pembuatan laporan jurnalistiknya menggunakan AI dan praktiknya diawasi secara ketat.

Sunu menekankan bahwa peningkatan kapasitas dan profesionalisme jurnalis menjadi hal yang sangat penting. Peningkatan kapasitas dapat dimulai dengan memperkaya referensi dan pengetahuan sehingga pengguna menjadi lebih cerdas daripada AI.

Ketua AJI Yogyakarta Januardi Husin menyatakan, profesionalisme jurnalis harus ditingkatkan dalam melakukan liputan dan melihat isu-isu yang penting untuk publik.

“UKJ ini penting untuk standarisasi agar jurnalis lebih profesional dan patuh terhadap etika ketika bertugas menjalankan kerja-kerja jurnalistiknya,” kata Januardi.

AJI salah satu dari 25 lembaga penguji terdaftar dalam Dewan Pers untuk memfasilitasi kegiatan UKJ. Peningkatan profesionalisme sendiri adalah bagian dari Tri Panji AJI sebagai pedoman untuk menjaga demokrasi di Indonesia. (Rep-02)