WISATA  

Melirik Jaran Kepang di Tanah Karo Simalem

Warga menonton pertunjukan Jaran Kepang di Lapangan Samura,Kecamatan Kabanjahe, Kabupaten Karo,Sumatera Utara, Minggu sore, 4 Maret 2018. [Foto Bay|Rienews.com]

RIENEWS.COM – Kesenian asal Pulau Jawa, Jaran Kepang, mendapat perhatian warga Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Di bumi Tanah Karo Simalem, pagelaran seni kebudayaan Jaran Kepang, beberapa waktu terakhir digeliatkan.

Minggu sore, 4 Maret 2018, di Lapangan Samura, Kecamatan Kabanjahe, pemeran Jaran Kepang beraksi.

Kesenian Jaran Kepang kerap dikaitkan dengan hikayat di Pulau Jawa itu, mampu menyedot perhatian warga.

KLIK: Bupati Karo Sikapi 9 Masalah Penanganan Sinabung

Pagelaran ini sengaja disuguhkan sebagai wujud menjaga dan melestarikan salah satu kesenian Tanah Air. Meski tidak di Tanah Jawa, pagelaran Jaran Kepang yang disuguhkan para pelakon, tak kalah indah, dan mendapatkan applause dari penonton.

Pagelaran Jaran Kepang diapresiasi putra Karo, Samura Rizal Sitepu. Tokoh pemuda tersebut, menilai, pagelaran Jaran Kepang yang dilakukan bertujuan, melestarikan kebudayaan Nusantara.

“Kesenian Jaran Kepang sangat minim dapat ditemui warga,” ungkap Rizal.

Dengan pagelaran Jaran Kepang yang diselenggarakan, Rizal berharap,  secara berkesinambungan Jaran Kepang digelar secara berpindah-pindah.

“Di wilayah kita ini (Samura) sangat kita dukung. Mari sama-sama kita lestarikan. Walau nantinya para pemain Jaran Kepang akan pindah lokasi dari satu wilayah ke wilayah lainnya,” kata Rizal.

Rizal tidak menepis, Jaran Kepang ‘berbau mistik’. Namun, kata dia, penonton tidak perlu khawatir.

“Kita lihat sendiri, ada yang mengupas kelapa, makan beling hingga menjadi roh halus yang diperankan setiap pemain kesenian Jaran Kepang,” ungkapnya.

Seorang pelakon Jaran Kepang kerap berperan sebagai Gatotkaca, Mail mengaku, awalnya mengalami pegal di tubuhnya.

“Sekarang sudah biasa saya melakukannya. Bahkan bila kami tidak mempermainkan pertunjukan malah badan rasa sakit. Meski upah tidak seberapa kami dapat,” kata dia.

Uang hasil pagaleran Jaran Kepang yang diterima, murni dari keikhlasan penonton.

Dibalik itu semua, Mail menegaskan, pagelaran Jaran Kepang yang dilakukannya bersama rakannya, bagian dari bentuk tanggungjawab melestarikan budaya. (Bay)